Foto Sholat Id tanpa Pisahkan Shaf Pria dan Wanita bikin Heboh

sholat id shaf campurMedia sosial dihebohkan beredarnya sejumlah foto yang menampilkan pelaksanaan Shalat Idul Adha yang tidak memisahkan antara saf laki-laki dan perempuan.

Dari beberapa foto yang beredar di Facebook, terlihat sejumlah jamaah laki-laki yang melaksanakan shalat bercampur dengan jamaah perempuan, dan begitu juga sebaliknya.

Foto itu diunggah Jumat (25/9) pagi (atau 11 jam lalu) oleh akun facebook bernama Dakwah kampus, yang menurut keterangan akun ittu dimiliki oleh Aktivis Dakwah Kampus, yang beralamat di jalan Utan Kayu Raya, Jakarta Timur.



   

Di foto itu juga disematkan sejumlah keterangan yang diberikan oleh pengunggah, yaitu penjelaskan kalau foto itu diambil di Simpang Lima, Semarang.

Sementara dalam penjelasannya, Dakwah kampus yang mengunggah foto itu memang menyampaikan sejumlah keterangan yang bernada sinis.

“Ini Semarang loh, bukan di tempat yang tidak ada ulama di sana. Ini Semarang loh, masih di Pulau Jawa yang mayoritas muslim.”

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengaku kaget saat menerima laporan masyarakat tentang pelaksanaan salat Idul Adha di Lapangan Simpang Lima, Kota Semarang, pada Kamis, 24 September 2015. Soalnya tak ada pemisahan saf atau deretan untuk jemaah pria dengan wanita.

“Saya memang banyak mendapatkan laporan dari HP (handphone/telepon seluler) saya, dari (akun) Twitter juga. Padahal sebenarnya aturan salat itu sudah jelas (saf jemaah pria dan wanita dipisah),” kata Ganjar saat kunjungan kerja di Purbalingga, Jawa Tengah, Sabtu, 26 September 2015.

Ganjar pun menyayangkan sikap panitia penyelenggara salat Idul Adha yang tidak tanggap melihat fenomena yang cukup membuat ramai media sosial itu. Panitia seharusnya sigap menertibkan jemaah sehingga tak dicampur laki-laki dan perempuan.Peristiwa itu, kata Gubernur, harus menjadi pelajaran agar tak terulang lagi di masa mendatang. Tata cara salat berjemaah sudah dimengerti semua umat Islam, termasuk pemisahan laki-laki dan perempuan. Maka tak ada alasan untuk menoleransi peristiwa serupa di masa mendatang.

“Ndak (tidak) boleh ini terulang. Kalau tidak, ini akan jadi cerita yang ramai lagi di socmed (social media/media sosial). Seolah-olah kita enggak profesional,” ujar mantan anggota Komisi II DPR Itu.

Sebelumnya, protes mengenai pelaksanaan salat Idul Adha di Simpang Lima Semarang pada Kamis lalu pertama kali muncul lewat unggahan foto di sebuah akun Facebook milik Ahmad Luthfi. Dalam foto itu jelas terlihat jelas kondisi semerawut ratusan jemaah yang melaksanakan salat.

Bahkan tidak ada perbedaan saf atau pembatas antara jemaah laki-laki dan perempuan. Ada juga posisi jemaah laki-laki justru berada di belakang jemaah perempuan, serta bergabungnya jemaah keluarga tampak seperti rekreasi keluarga.

Ahmad Luthfi saat mengunggah foto itu sempat menuliskan keprihatinannya terhadap kondisi saf salat yang dialaminya. “Astaghfirullah, pertama kalinya salat hari raya di Simpang Lima Semarang. Masya Allah, jemaah berantakan, campur-baur antara laki dan perempuan, saf salat saling berpencar, pada kumpul dengan keluarga ibarat rekreasi saja. Inikah wajah umat Islam,” tulisnya.

Komentar para pengguna internet tentang kejadian itu pun beragam. Banyak yang menyayangkan sikap panitia tidak bisa mengatur jemaah. Panitia bahkan tidak mengindahkan aturan Islam tentang salat berjemaah yang salah satunya adalah saf laki-laki dengan perempuan harus dipisah.

Jemaah laki-laki dan perempuan bercampur saat salat Idul Adha di Simpang Lima, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 24 September 2015. []